klik ini

Rabu, 06 Agustus 2008

mengenai kotoran kelelawar

http://www.nad.go.id/index2.php?option=isi&do_pdf=1&id=514.

Kotoran Kelelawar, Makanan Sehat Bagi Salamander
Bagi Salamander yang tinggal di gua, kotoran kelalawar atau guano yang jatuh ke air adalah sumber makanan bergizi. Saat menemukannya, spesies salamander yang hidup di bagian tengah barat AS mengubah
kebiasaannya dari karnivora (pemakan daging) menjadi pemakan kotoran kelelawar.
Demikian hasil penelitian yang disampaikan para peneliti kehidupan bawah tanah.
Karena kelelawar tidak mengunyah makanannya hingga sempurna, kotoran yang dijatuhkannya mengandung protein
dan gizi yang lebih tinggi daripada sepotong Big Mac sekalipun. Bagi salamander gua jenis Eurycea spelaeus, kotoran
ini merupakan hidangan sempurna dalam lingkungan yang serba gelap, di mana makanan mungkin sulit ditemukan.
Jamur, bakteri, dan udang-udangan diketahui hidup pada kotoran tersebut. Di lain pihak, udang-udangan diketahui
sebagai makanan bagi karnivora di gua, misalnya salamander.
Tapi, Danté Fenolio, seorang ahli salamander dari University of Oklahoma di Norman, terkejut ketika melakukan
penelitian terhadap populasi salamander di Gua January-Stansbury, bagian timur laut Oklahoma.
Sepertinya, salamander memilih untuk meninggalkan mangsanya dan menikmati menu kotoran kelelawar. Beberapa
ikan sebelumnya ditemukan melakukan hal serupa. Tapi untuk hewan amfibi, baru salamander yang diketahui sampai
sekarang.
Mereka menemukan hal tersebut tanpa sengaja saat melihat salamander muda memuntahkan guano kepadanya. "Tidak
biasanya salamander muntah saat ditangkap," kata Fenolio, "Tapi, apa yang dimuntahkan juga tidak biasa." Tim peneliti
juga melihat salamander dewasa makan kotoran yang tertimbun pada kedalaman dua meter dari permukaan sungai.
Sekitar 15 ribu kelelawar abu-abu (Myotis grisescens) berkembang biak di gua selama musim panas. Saat itulah waktu
yang ditunggu-tunggu jenis salamander yang buta dan tubuh transparan memperoleh sumber makanan yang bergizi.
Saat menguji otot salamander, para peneliti menemukan bahwa kandungan isotop karbon dan nitrogen di dalamnya
cocok dengan kotoran kelelawar. Hal tersebut menunjukkan bahwa kotoran kelelawar merupakan salah satu makanan
penting salamander.
Mereka juga menganalisis kandungan gizinya dan terkejut dengan hasilnya. Sebab, nilainya ternyata sebanding dengan
udang-udangan, sumber makanan salamander pada umumnya yang terdiri atas protein dan mineral dalam sepotong
makanan. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam Prooceedings of the Royal Society B.
"Jika suatu saat Anda dapat membersihkan kotoran kelelawar, mungkin bisa jadi sumber makanan bergizi bagi
manusia," kata Fenolio.
William Elliott, seorang ahli biologi gua dari Departemen Konservasi Missouri menyatakan, tidak terlalu mengherankan
bahwa masih banyak rahasia yang belum terkuak di sana. "Sangat sulit untuk merayap di dinding gua," katanya,
http://www.nad.go.id - .:..:.Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.:..:.
Bertenaga by KerSip Open Source
Dibuat: 17 July, 2008, 09:14
Page 2
"Sehingga kami belum dapat mengamatinya lebih rinci apa yang terjadi di dalamnya."
Tapi, Elliot mengatakan bahwa menemukan bagaimana spesies yang terancam punah - yaitu kelelawar abu-abu -
mendukung komunitas gua adalah sesuatu yang berarti. "Hubungan dalam ekosistem ini akan membantu
kami menentukan langkah-langkah pelestarian," lanjutnya.



Kelelawar

Liputan6.com, Kutai Timur: Hutan lindung adat Wehea, kawasan konservasi di daerah Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, adalah wilayah penting penghasil oksigen atau paru-paru dunia. Vegetasi tumbuhan kayu-kayu berumur ratusan tahun mendiami wilayah hutan seluas hampir 38 ribu hektare itu. Selain cuaca yang mudah berubah secara drastis. hutan ini juga mempunyai tingkat kelembaban cukup tinggi. Sinar matahari sulit menembus ke perut hutan.

Wilayah seperti ini merupakan surga bagi kelelawar. Mereka kerap ditemukan di dalam Goa Karst yang tak tersentuh cahaya matahari. Satwa mamalia misterius ini umumnya hidup berkelompok dan berkoloni. Kendati ada pula yang hidupnya soliter. Di lokasi yang nyaris tak terjamah manusia ini, ada makhluk kecil dari spesies kelelawar rubah.

Kelelawar satu-satunya mamalia di dunia yang mampu terbang. Kelelawar adalah binatang yang aktif di malam hari. Maka indera pendengaran menjadi pemandu utama saat beraktivitas dan manuver ketika terbang. Kelelawar menggunakan jeritan suara sebagai penentu lokasi atau ekolokasi. Sama seperti paus dan lumba-lumba, kelelawar memakai sonar guna mengetahui objek yang ada di sekelilingnya.

Dengan frekuensi sekitar 100 ribu hertz, kelelawar mampu mengidentifikasi serangga berukuran setipis rambut. Karena kondisi inilah, kelelawar tak pernah menabrak atau bertabrakan satu dengan lainnya ketika terbang malam hari. Gerakan cepat kepakan sayap kelelawar mencapai sekitar 195 kali dalam satu detiknya.

Warga suku dayak Wehea biasa memanfaatkan endapan guano atau kotoran kelelawar sebagai pupuk penyubur tanah. Guano memiliki kandungan nitrogen dan fosfat yang tinggi sehingga cukup mampu mengumpulkan unsur hara dan menyuburkan tanah.

Para Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengidentifikasi beberapa spesies kelelawar di Indonesia, di antaranya jenis Dobsonia di Waigeo Papua. Penelitian ini amat penting guna membantu proses penyerbukan tanaman. Kelelawar Dobsonia pemakan buah adalah pembawa serbuk sari yang berguna untuk fertilisasi atau pembuahan tanaman buah-buahan.


NILAI PENTING BIOTA GUA DI KAWASAN KARST GUNUNG SEWU

Pemanfaatan kawasan karst secara bijaksana dan berkelanjutan selama ini belum banvak mendapat perhatian. Padahal kawasan karst menyimpan potensi alam yang sangat besar. Kawasan ini merupakan laboratorium alam berbagai disiplin ilmu seperti Geologi, Hidrologi, Biologi. Pertanian. ilmu-ilmu Sosial dan lainnva. Salah satu kawasan karst yang terdapat di Pulau Jawa adalah kawasan karst Gunung Sewu di Kabupaten Gununa Kidul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan karst ini mempunyai tipe karst tropis basah dengan dengan bentukan conical hill yang khas.
Salah satu potensi kawasan karst yang belum diperhitungkan adalah biota gua. Hal ini belum disadari karena kemungkinan tidak mudah untuk mengkalkulasikannya. Biasanva adanva potensi ini baru dirasakan atau dapat diestimasi setelab adanva kerugian ekonomi akibat dari kerusakan kawasan karst tersebut. Oleh sebab itu perlindungan dan pemanfaatan yang beikelanjutan kawasan karst dan keanekaragaman havati yang terdapat di dalamnya merupakan hal yang sangat penting untuk dilaksanakan guna menjaga keseimbangan ekosistem karst tersebut.

Peranan biota gua
Gua merupakan habitat yang sangat spesifik. Kondisi di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari secara langsung menvebabkan suhu dan kelembapan yang relatif tetap sepanjang tahun. Oleh sebab itu biota gua menjadi sangat adaptif dan khas.
Biota rang umum terdapat di dalam gua antara lain adalah artropoda, kelelawar. \valet, berbagai jenis ikan, dan mikroorganisme. Untuk jenis gua yang vertikal (luweng) biasanya di dasar gua juga terdapat berbagai jenis tumbuhan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai beberapa peranan biota penvusun ekosistem gua yang dapat bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.

Kelelawar
Kelelawar merupakan salah satu binatang yang paling umum terdapat di gua-gua di kawasan karst Gunung SC Menurut Hill dan Smith (1984), kelelawar (Ordo Chiroptera) merupakan salah satu mamalia yang penvebarannya paling luas di dunia terutama di daerah tropis dan subtropis, kecuali tidak terdapat di daerah Arctik, Antartika dan beberapa pulau terpencil. Daerah sebaran kelelawar dalam mencari makanan dapat mencapai puluhan kilometer dari gua tempat tinggalnva. Corbet dan Hill (1992) menvebutkan bahwa di dunia terdapat 977 jenis kelelawar. Di Indonesia sendiri menurut Vermeulen dan Whitten (1999) terdapat sekitar 130 jenis kelelawar.

Kelelawar mempunvai peranan yang penting dalam suatu ekosistem. Peranan tersebut antara lain sebagai :
1. Pengontrol serangga.
Sebagian serangga yang dimakan oleh kelelawar adalah hama bagi pertanian. Sebuah contoh kasus gua karst di Kuil Khao Chong Pran di wilayah timur Thailand, diestimasi jumlah kelelawar Asian \\Tinkle-lipped sebanyak 900.000 individu. Masing-masing individu mengkonsumsi 7 gram serangga tiap malam, sehingga diperkirakan 6,3 ton serangga per malam untuk seluruh koloni kelelawar. Dan pertahunnya dapat mengkonsumsi serangga 2.300 ton (Vermeulen dan Whitten, 1999).
2. Penghasil Guano.
Kotoran atau sisa metabolisms yang dikeluarkan oleh kelelawar biasa disebut guano. Guano yang dikeluarkann\ a kaya akan ni¬trogen yang sangat baik untuk pupuk atau kesuburan tanah. Selain memiliki nilai ekonomi. guano juga penting sebagai sumber ma¬kanan bagi organisme gua lainnya. Menurut penelitian Saptiningsih (1994) pemberian pupuk guano dapat meningkatkan kandungan unsur hara tanah yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung yang meliputi tinggi tanaman, jumlah dan luas daun, berat pipilan kering dan memperpendek \vaktu terbentuknya bunga.
3. Penvebar biji dan penverbuk tanaman
Kelelawar Frugivor (pemakan buah) dan Nectarivor (pemakan nektar) berperan penting dalam penyebaran biji dan penverbuk tanaman. Kelelawar pemakan buah ini tidak merusak bijinya sehingga biji bisa jatuh bersama dengan kotoran (guano). Contoh kasus di Gua Batu (dekat Kuala Lumpur) akibat dari penembangan batu kapur. mempengaruhi populasi kelelawar di wilavah tersebut sehingga mengurangi panenan perkebunan durian yang dalam satu hektar mampu menghasilkan $10.000 (McDonald, 1993).

Dari hasil inyentarisasi kelelawar di beberapa gua di Kecamatan Ponjong dihasilkan sebanyak 6 spesies. Hasil lengkapnya sebagai berikut :
Tabel 2. Jenis-jenis kelelawar yang terdapat di gua-gua Kecamatan Ponjong, Gunung KiduL
No Spesies Lokasi gua Keterangan
1. Hipposideros sp Gremeng lnsectivora
2. Rhinolophus sp Plalar, Cokro, Tlogo lnsectivora
3. Vesperdionidae(Fam) Gilap, Cenguk lnsectivora
4. Nycterysjavanica Cokro lnsectivora
5. Rousettus sp Lawa Frugivora
6. Myotis sp Plalar lnsectivora
Sampel- Matalabiogama 11999)

Dari basil ini dapat diketahui bahwa kemungkinan keanekaragaman jenis kelelawar di kawasan karst Gunung Sewu cukup tinggi. Terbukti dari hasil inyentarisasi sebanvak 7 gua di wilayah Kecamatan Ponjong didapatkan sebanvak 6 jenis. Padahal jumlah gua-gua yang terdapat di Ponjong mencapai puluhan. Belum lagi gua-gua yang terdapat di seluruh kawasan karst Gunung Sewu yang meliputi Kecamatan Rongkop, Semanu, Tepus. Paliyan dan Panggang.

Walet
Salah satu potensi biota gua kawasan karst Gunung Sewu yang telah dimanfaatkan adalah burung walet. Sarang dari burung Walet Sarang Putih (Collocalia.hiciphaga) mempunvai nilai ekonomi yang sangat tinggi. karena di Asia merupakan bahan makanan yang digemari dan tegolong mewah. Dinas Pendapatan Daerah Pemerintah Daerah Gunung Kidul telah mengelola puluhan gua di wilayah tebing-tebing pantai Rongkop dan Panggang. Akan tetapi karena sistim pengelolaan yang belum profesional menyebabkan hasil produksi sarang walet mengalami penurunan.
Manfaat burung Walet selain sarangnva adalah sebagai pengontrol populasi serangga yang berpotensi sebagai hama pertanian. Walet mengkonsumsi serangga dengan cara terbang, karena hidupnya rang aerial. Burung ini sering dijumpai menempati lorong-lorong gua yang gelap total. Dengan demikian walet mempunyai kemampuan echoloca¬tion. Pernah dijumpai dalam satu gua terdapat burung walet dan kelelawar sekaligus, meskipun menempati ruangan (chamber) gua yang berbeda. Menurut Mardiastuti (1997) ada 3 jenis walet yang sarangnya telah diperdagangkan yaitu Walet Sarang Putih (Collocalia .fitciphaga), Walet Sarang Hitam (Collocalia maxinuts). dan Sriti (Collocalia esculenta).
Sistem pengelolaan valet di alam terutama di habitat gua di kawasan karst Gunung. Sewu hares memperhatikan kaedah-kaedah konservasi gua. Sebab apabila terjadi kenisakan pada ekosistem gua, tentunya akan mempengaruhi terhadap produksi sarang, burung walet itu sendiri. Dengan adanya alternatif pembangunan rumah-rumah walet merupakan suatu upaya yang perlu digaiakkan untuk pengelolaan secara berkelanjutan.

Arthropoda
Potensi dan manfaat hew-an-hew an Arthropoda belum banyak dikenal oleh masyarakat umum. Salah satu kelompok arthropoda yang hidup di dalam gua adalah Collembola. Hewan ini mempunyai ukuran yang sangat kecil (1.00-8.00mm) dan manfaatnya tidak secara langsung dapat dinikmati manusia. Collembola yang hidup di tanah berfungsi sebagai perombak bahan organik tanah. Hewan ini dapat dijadikan indikator kesuburan tanah. Dalam rantai makanan di dalam ekosistem gua, Collembola memakan jasad renik yang dapat berupa jamur di rantai gua. Sedangkan jasat renik melakukan perombakan bahan organik berupa guano atau bangkai fauna gua. Collembola juga berfungsi sebagai penvebar spora perombak bahan organik sehingga ikut mempercepat prses perombakan atau fermentasi.
Penelitian mengenai keanekaragaman dan manfaat arthropoda gua di kawasan karst masih sangat jarang dilakukan. Padahal kawasan ini mempunvai potensi yang cukup besar. Untuk jenis Collembola. di Indo¬nesia diperkirakan mencapai sekitar 600 - 900 jenis. Dan data yang terkumpul dari hasil penelitian sampai tahun 1994 tercatat sebanvak 327 jenis (Suhardjono. 1997).

Vegetasi
Wilavah kawasan Gunung Kidul sekarang secara keseluruhan merupakan wilavah yang tandus. Padahal menurut catatan Junghun tahun 1850-1854 mengemukakan bahwa wilavah Gunung Sewu dahulu ditutupi oleh hutan rang rapat.
Adana danau bawah tanah yang terdapat dalam gua-gua dapat diguanakan sebagai studi Palinologi. Studi ini dapat digunakan untuk mengetahui vegetasi kawasan Gunung Sewu pada masa lampau. yaitu dengan cara mencari tipe serbuk sari yang terendapkan dalam sedimen danau bawah tanah.

Dengan diketahuinva vegetasi pada masa lampau dapat digunakan sebagai gambaran untuk usaha-usaha pelaksanaan reboisasi dan konsen-asi lahan di wilavah Gunung Sewu.
Disamping biota gua yang telah disebutkan diatas. masih banvak lagi biota yang ada di dalam gua seperti ikan-ikan gua. berbagai mikroorganisme gua, landak, trenggiling, katak dan berbagai jenis ular. Setiap jenis organisme yang terdapat di dalam gua mempunyai peranan yang berbeda dalam menyusun komponen ekosistem gua. Usaha-usaha pendataan biota gua di kawasan karst Gunung Sewu merupakan langkah awal untuk mengetahui potensi yang ada. Jangan sampai potensi tersebut musnah oleh keserakahan manusia yang hanya mementingkan keuntungan sesaat.

Kesimpulan dan Saran
Kawasan karst Gunung Sewu menyimpan potensi biota gua yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masrarakat. Dalam pemanfaatannva perlu memperhatikan kaidah-kaidah konservasi guna
http://kanopi-indonesia.org/nilai%20penting%20biota%20gua%20di%20kawawab%20karst%20gunung%20sewu.html

Tidak ada komentar: