Buah nyamplung
BBM Alternatif
Dikatakan, pengembangan tanaman nyamplung di KPH Kedu Selatan dilaksanakan di wilayah seluas 86,9 hektare dengan jumlah pohon mencapai 10.814 pohon dan membentang sepanjang Pantai Ketawang. "Biji tanaman itulah yang bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Analisis dan Penyajian Informasi Departemen Kehutanan Bintoro mengatakan, seluas 350 hektare lahan tepi pantai di Kabupaten Cilacap dijadikan area hutan tanaman nyamplung, cemara laut (Terminalia catapa) dan ketapang laut (Casuaria equisetifolia).
"Budi daya nyamplung, saat ini disebut sebagai primadona karena mampu menghasilkan biofuel dari buah keringnya sebagai bahan bakar minyak (BBM) alternatif," katanya.
Dikatakan, Dephut lebih mengedepankan partisipasi masyarakat dalam mengelola potensi hutan.
Dephut, katanya, telah menyediakan sekitar 3 juta bibit untuk alokasi penanaman di 3.000 hektare lahan. Sementara untuk Cilacap dialokasikan 148.222 batang pohon nyamplung.
Dia menjelaskan, secara ekonomi, pembuatan hutan pantai ini dapat menjadi stimulus berkembangnya dunia pariwisata, pantai yang secara langsung ataupun bertahap, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan Cilacap pada umumnya.
Dengan konsep yang melibatkan masyarakat, terangnya, perekonomian warga dapat tingkatkan bersamaan dengan suksesnya rehabilitasi lahan dengan pohon nyamplung sebagai alternatif bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan.
Pohon nyamplung merupakan salah satu sumber energi hijau. Energi itu biasa disebut sebagai bahan bakar hayati atau biofuel. Energi ini tidak akan pernah habis selama tersedia tanah, air, dan matahari masih memancarkan sinarnya ke muka bumi.
Selama mau menanam, membudidayakan, serta mengolahnya menjadi produk bermanfaat seperti bahan bakar. Tanaman nyamplung bisa menjadi primadona sumber energi alternatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar