klik ini

Senin, 27 Oktober 2008

Nyamplung

Tanam Nyamplung
Nyamplung adalah jenis tanaman serbaguna. Disamping kayunya bagus untuk digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan & meubelair, juga buahnya bermanfaat untuk kesehatan dan penghasil Minyak (Biofuel) yang kadar Oktan-nya cukup tinggi. Dengan gambaran itu, Banyumas Barat akan mencoba mengembangkan tanaman ini seluas 1.000 Ha di tahun 2008 yang ditanam di daerah konflik sosial (tanah sengketa). Dengan pola PHBM diharapkan tanaman ini dapat menjembatani kesenjangan yang terjadi selama ini.
Di wilayah kabupaten Cilacap, Nyamplung telah terlebih dahulu dikembangkan oleh masyarakat Cilacap khususnya di wilayah sekitar kecamatan Patimuan dan daerah Gunung Selok kecamatan Kroya/Adipala untuk keperluan bahan baku pembuatan Perahu Nelayan. Sejak tahun 2007 Dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten Cilacap telah menanam 135 Ha (148.225 plc) di lahan TNI angkatan Darat sepanjang pantai Laut selatan. Sedangkan di tahun 2008 direncanakan menanam seluas 300 ha dengan rencana persemaian 330.000 plc (realisasi sd saat ini sudah 200.000 plc).
Gaung yang ada di wilayah Cilacap ini, direspon pula oleh Perum Perhutani KPH Banyumas Barat dengan merencanakan menanam pada tanah sengketa (Tenurial) di RPH Cikujang dan RPH Rawa Apu BKPH Rawa Barat seluas + 1.000 ha dengan rencana persemaian sebanyak 400.000 plc (jarak tanam 5x5 m2) baru dalam tahap pengumpulan benih.
Berikut seluk beluk tentang tanaman Nyamplung (Calophyllum inophyllum L)
I. IDENTIFIKASI A. Nama Dagang dan Nama Daerah a. Nama umum/dagang : Nyamplung atau Bintangur (Calophyllum inophyllum) b. Nama Daerah : Sumatra : Eyobe (Enggano); Punaga (Minangkabau); Penago (Lampung); Nyamplung (Melayu) Jawa : Nyamplung (Jawa Tengah, Sunda); Camplong (Madura, Bali) Nusa Tenggara : Mantan (Bima); Camplong (Timor) Sulawesi : Dingkalreng (Sangir); Dongkalan (Mongondow); Dungala (Gorontalo); Iilambe (buol); Punaga (Makasar); Pude (Bugis) Maluku : Hatan (Ambon); Fitako (Ternate)
B. Klasifikasi dan Tempat Tumbuh a. Klasifikasi :Divisi : SpermatophylaSub Divisi : AngiospermaeKelas : DicotyledonaeBangsa : GuttiferalesSuku : GuttiferaeMarga : CalophyllumJenis : Calophyllum inophyllum Lb. Tempat tumbuh : Tumbuh di tepi sungai atau pantai yang berudara panas sampai dengan ketinggian 200 m dpl.C. Ciri-Ciri Batang : Berkayu, Bulat, warna coklat Daun : Tunggal, bersilang berhadapan, bulat memanjang atau bulat telur, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10-21 cm, lebar 6-11 cm tangkai 1,5-2,5 cm Bunga : Majemuk, berbentuk tandan Buah : Bulat seperti peluru, Diameter 2,5-3,5 cm, warna hijau, kering menjadi coklat Biji : Bulat, tebal, keras, warna coklat, pada inti terdapat minyak berwarna kuning. Akar : Tunggang Tinggi Pohon : + 20 meter II. TEKNIK BUDIDAYA DAN PRODUKTIFITAS 1. PembibitanPerkembangbiakan tanaman dapat dilakukan melalui biji (persemaian).Biasanya pada pohon yang sudah besar, terdapat anakan di bawahnya.2. Prakiraan produksi Biji Dalam satu tahun per pohon sebanyak + 250 kg. 3. Jumlah BijiJumlah biji yang sudah kering (termasuk kulit)/kg sebanyak + 240 buah.
III. KEGUNAAN KayuDigunakan untuk Kontruksi, Pertukangan, Furniture, Bahan baku pembuat kapal. Buah/Biji nyamplung, menghasilkan :1. Minyak Nyamplung dapat digunakan sebagai bahan bakar2. Alkohol 96%3. Ampas Buah dijadikan Briket Tanaman Obat1. Penyubur Rambut2. Obat Rematik Hasil Penelitian Siswa SMA Negeri 6 YogyakartaFathur Rahman dan Aditya Prabaswara Siswa SMA 6 Yogyakarta (Juara 1 Nasional Wisata IPTEK Tahun 2007 yang dilakukan Kementrian Riset dan Teknologi).1. 1 kg Biji nyamplung yang sudah tua bisa menghasilkan 0,5 liter minyak.2. Untuk memdidihkan air dengan menggunakan kompor, minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung 0,4 ml.3. Kelemahan minyak biji nyamplung adalah kapilaritasnya tidak sebagus minyak tanah. 4. Perbandingan penggunaan 1 mililiter Minyak Biji Nyamplung dengan 1 mili liter Minyak Tanah :Volume 1 mililiter Lama Pembakaran Keterangan Minyak Tanah 5,6 menit Minyak Nyamplung 11,8 menit Tidak menimbulkan jelaga
IV. Pabrik Pengolahan Minyak Nyamplung di Cilacap
Pabrik pengolahan minyak nyamplung ini merupakan bantuan dari Dinas Perindustrian bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Kab. Cilacap yang pada awalnya di khususkan untuk mengolah biji jarak, namun karena di wilayah tersebut banyak tersedia biji nyamplung, maka oleh Pak Samino (pemilik pabrik) dimanfaat juga untuk mengolah biji nyamplung. Kapasitas masak pabrik tersebut sebanyak 300 kg/hari.
Lokasi pabrik di Desa Karang Mangu Kecamatan Kroya, hasil pengolahannya sebagai berikut :
1. Untuk mendapatkan 1 liter minyak nyamplung dibutuhkan 2,5 kg biji nyamplung kering.
2. 1 kg Biji nyamplung yang ada kulitnya di kupas menjadi 0,7 kg biji nyamplung tanpa kulit.Berdasarkan penjelasan Pak Samino, pabriknya lebih senang mengolah biji nyamplung dibandingkan dengan biji jarak.
Sumber :http://www.kphbanyumasbarat.perumperhutani.com/

Tidak ada komentar: